Beranda | Artikel
Saat Semua Sandaran Runtuh, Di Mana Hati Kita Bergantung?
9 jam lalu

Beberapa waktu terakhir, sebagian wilayah Sumatera dilanda musibah banjir. Rumah-rumah terendam, harta benda hanyut, ladang rusak, kendaraan tak tersisa, bahkan nyawa melayang. Bagi banyak keluarga, apa yang dikumpulkan bertahun-tahun seolah hilang dalam hitungan jam. Tangisan terdengar di pengungsian, doa dipanjatkan dengan suara bergetar, dan hati manusia diuji pada titik yang paling dalam.

Di tengah peristiwa seperti ini, kita diingatkan pada satu hakikat penting: kehilangan adalah kenyataan hidup yang tidak bisa dihindari. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan rasa aman, ada yang kehilangan orang tercinta, dan ada pula yang kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya sekaligus. Namun, yang paling menentukan bukanlah besarnya kehilangan itu, melainkan bagaimana hati meresponnya. Apakah ia semakin tunduk kepada Allah Ta’ala, atau justru tenggelam dalam keluhan dan keputusasaan.

Banyak manusia—tanpa sadar—mengukur kasih sayang Allah Ta’ala dengan kenyamanan hidup. Selama rumah utuh dan rezeki lancar, mereka merasa Allah sedang meridai. Namun ketika banjir datang, harta lenyap, dan hidup terasa sempit, muncul bisikan: “Mengapa Allah melakukan ini?” Padahal, ukuran rida Allah Ta’ala bukanlah banyak atau sedikitnya dunia, melainkan keteguhan iman saat ujian datang.

Maka, hal perlu kita tanamkan dalam diri kita adalah bahwa kehilangan—baik harta maupun nyawa—adalah cermin keimanan. Musibah yang menimpa telah menyingkap siapa yang benar-benar bersandar kepada Allah, dan siapa yang selama ini hanya bergantung kepada dunia.

Musibah dan sunnatullah

Allah Ta’ala telah menegaskan sejak awal bahwa kehidupan dunia ini tidak pernah lepas dari ujian. Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini terasa begitu dekat dengan realitas musibah banjir yang terjadi. Kekurangan harta, hilangnya jiwa, rasa takut, dan ketidakpastian—semuanya nyata di hadapan mata. Namun, Al-Qur’an mengajarkan bahwa semua itu bukan tanda kebencian Allah, melainkan bagian dari sunnatullah.

Orang beriman tidak dijanjikan hidup tanpa bencana. Yang dijanjikan adalah pertolongan, pahala, dan pengangkatan derajat bagi mereka yang bersabar. Bahkan sering kali, musibah adalah bentuk kasih sayang Allah agar seorang hamba kembali sadar, kembali lurus, dan kembali menggantungkan hatinya kepada Rabb semesta alam.

Jika seseorang tertimpa musibah lalu menjauh dari Allah Ta’ala, maka ia rugi dua kali: dunia hilang dan akhirat terancam. Namun, jika musibah membuatnya semakin tunduk, maka sesungguhnya ia sedang diselamatkan—meskipun secara lahir tampak kehilangan segalanya.

Baca juga: Mengapa Bencana Terus Melanda

Hakikat kemuliaan

Banjir yang melanda Sumatera menyadarkan kita betapa rapuhnya harta dunia. Rumah yang kokoh, kendaraan yang mahal, dan simpanan bertahun-tahun bisa lenyap dalam satu malam. Di sinilah Allah menyingkap kesalahan cara pandang manusia tentang harta dan kemuliaan.

Allah Ta’ala berfirman,

فَأَمَّا ٱلْإِنسَـٰنُ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ رَبُّهُۥ فَأَكْرَمَهُۥ وَنَعَّمَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَكْرَمَنِ

وَأَمَّآ إِذَا مَا ٱبْتَلَىٰهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُۥ فَيَقُولُ رَبِّىٓ أَهَـٰنَنِ

“Adapun manusia, apabila Rabbnya mengujinya, lalu dimuliakan, dan diberi kesenangan, maka dia berkata, ‘Rabbku telah memuliakanku.’

Tetapi apabila Rabbnya mengujinya, lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Rabbku telah menghinakanku.’ (QS. Al-Fajr: 15–16)

Saudaraku, lapangnya rezeki bukan bukti kemuliaan, dan sempitnya rezeki bukan tanda kehinaan. Keduanya adalah ujian. Musibah banjir bukan ukuran kehinaan suatu daerah atau suatu kaum, tetapi ladang ujian iman.

Lihatlah, tidak sedikit orang yang hartanya melimpah, namun hatinya kosong dari zikir. Sebaliknya, ada yang kehilangan hampir segalanya, tetapi justru menemukan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Maka pertanyaan terpenting bukanlah, “Apa saja yang hanyut?” melainkan “Apa yang tersisa di dalam hati?”

Para salaf dahulu tidak takut miskin. Mereka takut jika dunia merusak hati. Karena dunia yang sedikit namun menguatkan iman jauh lebih berharga daripada dunia berlimpah yang melalaikan.

Ketika semua sandaran dicabut

Musibah banjir sering kali mencabut seluruh sandaran dunia: rumah, pekerjaan, rasa aman, dan masa depan yang telah direncanakan. Di titik inilah hakikat tawakal diuji.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal bukan berarti menyerah tanpa usaha. Para korban banjir tetap berikhtiar: menyelamatkan keluarga, mencari bantuan, dan membangun kembali kehidupan. Namun, hati mereka belajar satu hal penting: hasil sepenuhnya berada di tangan Allah Ta’ala.

Kadangkala, Allah Ta’ala mengambil sesuatu dari kita agar kita kembali menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran. Jika harta hanyut tetapi tawakal tumbuh, maka itu bukan musibah semata—melainkan anugerah yang tersembunyi.

Hati yang bertawakal tidak mudah panik, tidak tenggelam dalam keputusasaan, dan tidak kehilangan harapan. Ia yakin bahwa apa pun yang Allah ambil, pasti mengandung hikmah; dan Allah Maha Mampu mengganti, meski tidak selalu dengan bentuk yang sama.

Sabar dan rida

Rasulullah ﷺ bersabda,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Hadis ini menjadi penguat bagi setiap jiwa yang terdampak musibah. Kehilangan bukanlah kehancuran, selama sabar dan iman masih dijaga.

Mestinya, seorang muslim tidak larut dalam pertanyaan, “Mengapa ini terjadi padaku?” tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih menyelamatkan, “Apa yang Allah ingin perbaiki dariku?” Di sinilah musibah berubah menjadi sarana pengangkat derajat.

Kesedihan adalah fitrah. Namun, lisan dijaga dari keluhan yang menyalahkan takdir, hati dijaga dari prasangka buruk kepada Allah, dan anggota tubuh dijaga dari maksiat. Adapun rida adalah menerima ketetapan Allah dengan tenang, karena yakin bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Keselamatan iman

Musibah banjir di Sumatera mengajarkan kita bahwa dunia ini benar-benar sementara. Tidak semua kehilangan itu buruk, dan tidak semua kelapangan itu baik. Ada kehilangan yang menyelamatkan iman, dan ada kelapangan yang perlahan membinasakan hati.

Jika musibah membuat kita lebih sering sujud, lebih jujur dalam doa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih rindu kepada akhirat, maka sejatinya kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya sedang dipindahkan dari sandaran yang rapuh menuju sandaran yang Maha Kokoh.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir, mengganti apa yang hilang dengan kebaikan yang lebih besar, dan menjadikan setiap musibah sebagai jalan kembali kepada-Nya. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah apa yang kita miliki di dunia, tetapi keadaan hati kita saat bertemu Allah Ta’ala.

Baca juga: Sikap Seorang Muslim dalam Menghadapi Musibah

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/113581-saat-semua-sandaran-runtuh-di-mana-hati-kita-bergantung.html